by

10 x 40an LEBIH PELAUT INDIA TERTAHAN MASUK SAUDI

Kesempatan dalam kesempitan, ungkapan yang tepat untuk peluang Pelaut Indonesia masuk ke Saudi sebagai efek dari di banned nya warga negara India untuk bisa masuk Saudi terkait peningkatan kasus Covid-19 di negara itu. Berikut ini penjelasan dalam video yang wajib disimak oleh para pelaut

Selain itu wabah virus corona atau Covid-19 terus merangsek ke seluruh aspek kehidupan umat manusia hingga saat ini. Amukannya meninggalkan luka pedih di hati sanubari keluarga yang anggotanya dijemput kematian oleh pandemi itu. Perekonomian dunia pun dibuatnya lumpuh hingga ke level resesi. Dunia pelayaran tentu saja tidak luput dari kelesuan ini kendati kegiatan pengiriman barang global tetap berjalan tiada henti.

Organisasi maritim internasional, IMO, mengeluarkan imbauan agar pergerakan kapal tidak perlu dibatasi di tengah wabah corona. Pelabuhan tetap harus dibuka agar bisa melayani kapal yang ingin bersandar di pelabuhan-pelabuhan di seantero bumi. Namun, tetap saja pelayaran terpukul serius.

Banyak analis memperkirakan wabah Covid-19 telah memangkas pengiriman bahan bakar minyak (BBM) ke China sebesar 3 juta barel per hari. Perkiraan ini dibuat ketika wabah corona masih dalam tahap awal dan sejauh ini saya belum membaca update yang mengoreksinya. Konsumsi BBM negeri Tirai Bambu ini dijadikan patokan karena ia merupakan “peminum” minyak terbesar di dunia.

Di sektor pelayaran peti kemas, sekitar 6 juta twenty foot equivalent unit (TEU) diperkirakan akan hilang hingga semester pertama 2020 akibat pembatasan atau pembatalan pengiriman dari dan ke China.

Kondisi pelaut jauh lebih memprihatinkan. Pasalnya, banyak negara kini sudah melarang atau mempersulit pergerakan pelaut di tengah maraknya wabah corona. Ada yang dilarang turun dari kapal selama waktu sandar di dermaga. Ada pula yang dikarantina di perairan pelabuhan. Nasib tidak mengenakan ini tentu juga dialami oleh pelaut Indonesia yang saat ini bekerja di kapal asing di seluruh dunia.

Ancaman paling nyata yang menanti para pelaut adalah depresi atau stres karena berada di atas kapal dalam waktu yang lama. Biasanya para pelaut dirotasi secara teratur oleh operator kapal. Bermacam-macam interval waktunya. Ada yang enam bulan, ada pula yang setahun. Tetapi, tidak sedikit juga yang kurang dari enam

Semuanya tergantung perusahaan pelayaran yang mempekerjakan para pelaut. Larangan yang diberlakukan oleh negara pelabuhan (port state) yang saya sebut sebelumnya termasuk larangan melakukan rotasi.

Parahnya, tidak ada jaminan keselamatan para pelaut itu bisa aman dan terhindar dari virus Corona kendati mereka tetap berada di atas kapal. Lihatlah bagaimana nasib awak kapal induk (aircraft carrier) milik AL Paman Sam, USS Theodore Roosevelt. Kendati sudah memiliki standar kesehatan tingkat tinggi namun masih saja ada yang terpapar corona. Terbayangkan betapa sulitnya kondisi para pelaut itu.

Bekerja di atas kapal berbeda dengan bekerja di pabrik, kantor atau tempat lainnya di darat. Tidak ada pemisahan yang tegas antara kantor atau lokasi kerja dengan tempat beristirahat. Bekerja dan beristirahat masih tetap di atas kapal yang sama. Sebesar apapun sebuah kapal, ia tetap saja terbatas. Bekerja untuk waktu yang lama di tempat terbatas/tertutup (confined area) jelas mempengaruhi mental pelaut. Wabah Covid-19 membuat pelaut bekerja di bawah tekanan yang makin berat.

Ada cerita yang cukup menggetarkan terkait merebaknya wabah corona dan nasib pelaut di negara pelabuhan. Dua orang pelaut berkebangsaan Myanmar ditahan oleh otoritas maritim di pelabuhan Keelung, Taiwan, Republic of China (ROC). Keduanya dicokok aparat karena turun dari kapal yang diawakinya tanpa izin. Mereka sebetulnya hanya ingin mengetahui kondisi keluarga masing-masing.

Di atas kapal tidak terdapat jaringan internet yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan orang rumah. Beruntung kasusnya tidak berbuntut panjang, kedua pelaut hanya disuruh kembali ke atas kapal. Pelaut kita yang bekerja di dalam negeri jelas lebih beruntung. Setidaknya pergerakan mereka masih relatif bebas dan bisa berkomunikasi rutin dengan keluarga.

Apapun keadaannya, pelaut tetap bekerja. Tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya, mereka tetap melayarkan kapal demi mengantarkan berbagai kebutuhan umat manusia ke delapan penjuru mata angin. Bila mereka berhenti seminggu saja, perekonomian dunia akan runtuh.

Virus corona memang berdampak luas terhadap perekonomian namun lebih luas lagi kerusakan ekonomi bila pelaut menyetop operasi kapal mereka. Pada titik ini, kita akhirnya menjadi tahu begitu besarnya kontribusi pelaut bagi umat manusia. Dari dahulu kala.

Terkait dengan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal luar negeri saat ini, ada baiknya pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, Kementerian Tenaga Kerja serta instansi terkait lainnya melakukan pendataan untuk mengetahui kondisi mereka saat ini. Setelah didata, selanjutnya pemerintah memberi perhatian kepada para pelaut Indonesia itu. Apapun bentuknya. Dengan perhatian ini pemerintah menghargai keberadaan pelaut yang telah mengalirkan devisa ke Tanah Air dalam nilai besar.

Kalau dokter, perawat dan tenaga medis lainnya sudah banyak yang memperhatikan, tapi kalau pelaut siapa? Padahal pelaut juga pahlawan di tengah wabah Covid-19 ini. Mereka harus dibantu, karena saat ini mereka mengalami kesulitan karena ketatnya peraturan di pelabuhan luar negeri. Pantas rasanya pelaut bersanding dengan profesi tenaga kesehatan untuk menerima sebutan sebagai pahlawan kemanusiaan.

Mereka tentu tidak pernah sama sekali berharap gelar ini ketika menjalankan tugas mulianya. Ketika suasana tenang kelak. Ada baiknya pemerintah memikirkan untuk memberikan status sebagai pahlawan kemanusiaan secara resmi kepada mereka. Karena kita makhluk yang beradab.

Oleh Bas Deny ditambahkan dari siswanto rusdi Direktur The National Maritime Institute.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed